Setelah
sekian lama saya bersembunyi dan menyibukkan diri dengan komunitas-komunitas
saya, kini saya tertarik untuk kembali belajar menulis hal-hal yang tidak wajar
dalam pikiran. Meski belum pernah mencapai kata “bagus” atau
melodramatis.yeheheheh....
Hal
yang tidak wajar ini berawal dari kejengkelan saya pada organisasi paguyuban di
kota yang saya gauli tujuh tahun silam ini. Benar jika suatu organisasi
memiliki struktur yang jelas, sistem dan seperangkat koordinasi di dalamnya.
Akan tetapi konteksnya akan berseberangan jika penduduk yang bernaung di
bawahnya mementingkan hasrat individualisnya. Sebab kunci keberhasilan
organisasi dimana-mana adalah hasrat-hasrat yang berasal dari ke-diri-an semua
pihak itu mampu diredam. Disinilah peran kedisiplinan. Mustahil organisasi itu
akan berjalan jika hanya mengandalkan pribadi-pribadi yang egois. Kesepakatan
membentuk agenda, rencana kegiatan dan sebagainya seharusnya beriringan dengan
yang namanya laku yang disiplin. Okelah saya mungkin salah bicara.
Hal
yang tidak wajar dalam pikiran saya diperkuat lagi oleh perencanaan semenjak
organisasi ini kembali hidup (untuk kesekian kalinya) yakni akan mengadakan
kegiatan penyambutan mahasiswa baru yang berasal dari lombok. tujuh bulan silam
rencana ini terbungkus. Dan pada waktunya, ketika universitas membuka
penerimaan mahasiswa baru. Sebagian besar orang yang dulunya berbicara dengan
suara lantang lenyap seketika. Alasan mereka pulang kampung saya kira tidak
logis jika mereka berani melupakan apa yang pernah mereka bicarakan.
Tempo
hari saya terbaring sakit di puskesmas. Beberapa hari lamanya saya pindah
ruangan kesana, tempat tidur yang hanya muat untuk satu tubuh dan rada
mengerikan akibat bau obat-obatan, ditambah raut wajah perawat yang nyinyirnya
minta ampun membuat saya ingin segera keluar lalu berlari waktu itu. Tapi
sekali lagi saya sakit. kemampuan kadang membatasi keinginan.
Orang-orang
yang pertama kali menemaniku adalah mereka yang berasal dari lombok sekaligus
penduduk organisasi paguyuban ini. merekalah yang pertama mengetahui apa yang
terbaik bagiku. Mereka menggadaikan namaku selama berada disana demi asuransi
kesehatan. agar saya tidak terlilit hutang biaya nanti dibelakang hari. Mereka
membawa roti dan bermacam makanan, sebagian lain ikut-ikutan pindah tempat
tidur kesana, menungguiku yang terbaring. Saya selalu membutuhkan pertolongan.
Bahkan untuk ke kamar kecilpun mereka bergantian memegangi infus yang melekat
di pergelangan tangan. Dari situlah saya tersadar bahwa mereka adalah bagian
terbaik yang mengalir bersama darahku.
Kejengkelanku
bukan karena saya berhak menjustifikasi mereka dengan hujatan. Namun karena
merekalah yang berjasa di hari ketika kemampuanku hanya bersandar pada jawaban
si dokter yang datangnya mesti satu kali sehari, karena saya pernah bersama
mereka suatu hari menanggung malu dipinggir jalan. Saya pernah bersama mereka
menikmati angin pantai yang sejujurnya angin yang panas, tidak baik buat
kesehatan. pernah membagi suka-duka ditempat tongkrongan, atau kost-kostan.
Maka saya ingin membalas jasa mereka dengan cara lain melalui organisasi,
barangkali jika apa yang organisasi paguyuban ini tugaskan kepada saya, akan
saya gunakan waktu pemulihan ini dengan bekerja sebaik-baiknya. Alangkah
baiknya jika saya dan mereka saling mendukung dalam hal apapun untuk
mempertahankan hidup organisasi yang hampir mati karena kekosongan kegiatan ini,
alangkah baiknya jika saya dan mereka saling mengingatkan satu sama lain jika
terdapat masalah intern, bukan malah saling mendiamkan. Orang dewasa sekalipun
belum tentu menyadari kesalahannya jika tidak diingatkan. saya menginginkan
demikian, karena saya tidak bisa berterimakasih kepada mereka dan membalas jasa
yang banyaknya berkisar masya alloh.
Jika
saya juga memikirkan ego sendiri, acuh terhadap agenda organisasi yang tidak
cocok dengan yang saya yakini, atau memikirkan sesuatu yang lebih baik bagi
diriku sendiri, sudah kutinggalkan organisasi ini. sebab diluar sana, setumpuk
kegiatan komunitas-komunitasku tengah menantikan kembaliku. Tapi saya ingin bersama
mereka membangun organisasi yang bukan kacangan dan sekedar bisa ngomong
“babebo” boboq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar