Kamis, 04 Juli 2013

JENGKEL nihh



Setelah sekian lama saya bersembunyi dan menyibukkan diri dengan komunitas-komunitas saya, kini saya tertarik untuk kembali belajar menulis hal-hal yang tidak wajar dalam pikiran. Meski belum pernah mencapai kata “bagus” atau melodramatis.yeheheheh....


Hal yang tidak wajar ini berawal dari kejengkelan saya pada organisasi paguyuban di kota yang saya gauli tujuh tahun silam ini. Benar jika suatu organisasi memiliki struktur yang jelas, sistem dan seperangkat koordinasi di dalamnya. Akan tetapi konteksnya akan berseberangan jika penduduk yang bernaung di bawahnya mementingkan hasrat individualisnya. Sebab kunci keberhasilan organisasi dimana-mana adalah hasrat-hasrat yang berasal dari ke-diri-an semua pihak itu mampu diredam. Disinilah peran kedisiplinan. Mustahil organisasi itu akan berjalan jika hanya mengandalkan pribadi-pribadi yang egois. Kesepakatan membentuk agenda, rencana kegiatan dan sebagainya seharusnya beriringan dengan yang namanya laku yang disiplin. Okelah saya mungkin salah bicara.


Hal yang tidak wajar dalam pikiran saya diperkuat lagi oleh perencanaan semenjak organisasi ini kembali hidup (untuk kesekian kalinya) yakni akan mengadakan kegiatan penyambutan mahasiswa baru yang berasal dari lombok. tujuh bulan silam rencana ini terbungkus. Dan pada waktunya, ketika universitas membuka penerimaan mahasiswa baru. Sebagian besar orang yang dulunya berbicara dengan suara lantang lenyap seketika. Alasan mereka pulang kampung saya kira tidak logis jika mereka berani melupakan apa yang pernah mereka bicarakan.

Tempo hari saya terbaring sakit di puskesmas. Beberapa hari lamanya saya pindah ruangan kesana, tempat tidur yang hanya muat untuk satu tubuh dan rada mengerikan akibat bau obat-obatan, ditambah raut wajah perawat yang nyinyirnya minta ampun membuat saya ingin segera keluar lalu berlari waktu itu. Tapi sekali lagi saya sakit. kemampuan kadang membatasi keinginan.
 Orang-orang yang pertama kali menemaniku adalah mereka yang berasal dari lombok sekaligus penduduk organisasi paguyuban ini. merekalah yang pertama mengetahui apa yang terbaik bagiku. Mereka menggadaikan namaku selama berada disana demi asuransi kesehatan. agar saya tidak terlilit hutang biaya nanti dibelakang hari. Mereka membawa roti dan bermacam makanan, sebagian lain ikut-ikutan pindah tempat tidur kesana, menungguiku yang terbaring. Saya selalu membutuhkan pertolongan. Bahkan untuk ke kamar kecilpun mereka bergantian memegangi infus yang melekat di pergelangan tangan. Dari situlah saya tersadar bahwa mereka adalah bagian terbaik yang mengalir bersama darahku.

Kejengkelanku bukan karena saya berhak menjustifikasi mereka dengan hujatan. Namun karena merekalah yang berjasa di hari ketika kemampuanku hanya bersandar pada jawaban si dokter yang datangnya mesti satu kali sehari, karena saya pernah bersama mereka suatu hari menanggung malu dipinggir jalan. Saya pernah bersama mereka menikmati angin pantai yang sejujurnya angin yang panas, tidak baik buat kesehatan. pernah membagi suka-duka ditempat tongkrongan, atau kost-kostan. Maka saya ingin membalas jasa mereka dengan cara lain melalui organisasi, barangkali jika apa yang organisasi paguyuban ini tugaskan kepada saya, akan saya gunakan waktu pemulihan ini dengan bekerja sebaik-baiknya. Alangkah baiknya jika saya dan mereka saling mendukung dalam hal apapun untuk mempertahankan hidup organisasi yang hampir mati karena kekosongan kegiatan ini, alangkah baiknya jika saya dan mereka saling mengingatkan satu sama lain jika terdapat masalah intern, bukan malah saling mendiamkan. Orang dewasa sekalipun belum tentu menyadari kesalahannya jika tidak diingatkan. saya menginginkan demikian, karena saya tidak bisa berterimakasih kepada mereka dan membalas jasa yang banyaknya berkisar masya alloh.

Jika saya juga memikirkan ego sendiri, acuh terhadap agenda organisasi yang tidak cocok dengan yang saya yakini, atau memikirkan sesuatu yang lebih baik bagi diriku sendiri, sudah kutinggalkan organisasi ini. sebab diluar sana, setumpuk kegiatan komunitas-komunitasku tengah menantikan kembaliku. Tapi saya ingin bersama mereka membangun organisasi yang bukan kacangan dan sekedar bisa ngomong “babebo” boboq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar