Minggu, 03 November 2013

Selamat menikah sahabat




Saya tidak ingin diingat sebagai seseorang yang pernah menghabiskan berbungkus-bungkus rokok, dan mengubur telikungan teman lama dipersimpangan jalan sepanjang lombok timur bersamamu. saya tidak ingin diingat sebagai sahabat yang baik. Jangan pernah! Saya hanya ingin dikenang sebagai seorang sahabat yang tolol karena tidak pernah berbuat sesuatupun untuk sahabatnya sendiri. Sesuatu yang saya janjikan padamu tempo hari kini telah menjadi dosa akibat kecurangan yang disengaja.
Dari balik dua dataran yang tak pernah memiliki wujud asali. kau pernah membacanya, sahabatku. Perjuangan adalah proses yang sangat panjang, sebagian hasil akan tampak, sebagian yang lain hanya membekas menjadi rekaman pikiran yang tidak dapat tersaji dalam bingkai potret. ketika beberapa perempuan telah berhasil kau singgahi, tidak lebih dari beberapa kutipan fiksi sederhana kalau mereka, perempuan itu pernah menghiasimu, tapi masamu yang lampau akhirnya telah berpulang pada satu muara pilihan, perempuan terakhir yang akan menemani langkah-langkahmu menggapai matahari yang tenggelam. Dan esok hari, dialah perempuan yang pertama kali akan kau temui ketika matahari menggeliat kembali.
Hari ini saya mengacaukan semua katalog yang pernah kau baca dalam perjalananmu. sahabatku. Kalaupun saya harus memohon maaf, semuanya terdengar percuma semenjak saya telah terjatuh terlalu dalam ke lubang hitam romantisme kuliah disini. Yang bermain-main mengurai fase penundaan dan pembelaan.
Sahabatku, tiada perkataan yang akan mampu menyenangkanmu. Kau tidak perlu memaafkanku hanya karena catatan biasa saja dari sahabatmu ini. saya membayangkan jika nyanyian lagu daerah yang kerap diputar pada malam begawe terdengar disana, dihalaman rumahmu. Ditemani teriakan, dan sorak-sorai para pemain judi mengisi malam mereka yang biasanya hening. Atau riuh canda remaja muda-mudi yang mengungsikan rindu mereka ke pundi asmara. dibawah atap anyam-anyaman daun kelapa dan tiang-tiang bambu. Mereka hadir mengiringi jiwamu yang akan berjalan meniti tanggung jawab. Ada yang akan lebih berat di depan sana, getir yang tersimpan ditengah kekacauan, ruang yang tidak memiliki celah selain kekosongan dan kegelapan. Akan tiba waktunya. Tapi ingatlah sahabatku! Kau tidak akan sendirian menghadapi semuanya.
Selamat melanjutkan hidup sahabatku. Adalah kekuranganku tidak memberikan kontribusi apapun dalam prosesi pernikahanmu itu. Hanya seutas doa yang kuulurkan untuk tangan langit, janji tuhan yang terbenam dalam harapan setiap pasangan yang semoga saja, dirimu dan istrimupun, akan mampu meraih kebahagiaan bersama sampai akhir hayat, sebagaimana keluarga senja lain. semoga.
Namun kau tidak harus menampik harapan dengan menghabiskan waktu berjam-jam. Cukupkan harapan sebatas misteri perasaan yang singkat saja. Selebihnya, fakta yang sangat dekat denganmu adalah istrimu. Karena dialah kesempurnaan yang tertata pada masa-masamu yang akan datang. hhe
Dalam satu perspektif, alasan tetaplah pembelaan klise yang kerap menguatkan bius dan motif kepentingan pelakunya. Begitupun dengan keadaanku yang sekarang, selain karena ketiadaan biaya untuk pulang, terdapat beberapa prasyarat kelulusan kuliah yang melilit dan merayuku untuk tetap betah tinggal di sini.
Dan belakangan ini, agar kau tahu sahabatku, saya tengah beruntung memiliki kekasih yang masih sanggup menghunus waktunya untuk sekedar menungguku. Dan hitunglah beberapa bulan ke depan! saya pasti menyusulmu. hkhkhk....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar