Ibu,
menenun sunyi setiap malam bahkan semenjak saya kecil rumah yang kami tinggali
berjauhan dengan tetangga. Rumah yang dikelilingi sawah, siapapun yang berniat
mencari pesugihan saya boleh saja menawarkan tempat yang strategis yaitu
dirumah saya. Dan ibu, selalu sendirian disana. Menanam pilu pada anak-anaknya
yang entah-berantah. Yang beliau tahu, anaknya sedang belajar mati-matian
dikejauhan. Saya yang memberi tahu beliau, dan ini semua saya lakukan dihadapan
ibu, berbohong, karena saya mencintai beliau dengan segenap akal yang mengalir
dalam diri saya.
Kenyataan
bahwa saya anak malas saya tutupi dengan demikian erat. Sekolah yang hampir
mencapai kehancuran ini mengingatkan saya, sekali lagi dan berulang kali pada
wejangan beliau agar saya terus bersabar. Pada momen akhir tahun 2003, saya
baru kelas satu aliyah pada tahun itu, ibu berpesan kepada saya untuk tidak
menyukai sesuatu yang menjadi milik orang lain. saya tidak mengetahui
maksudnya, lantas menyepelekannya dengan ungkapan yang seadanya, jawaban ya
barangkali adalah jawaban yang kerap digunakan orang ketika menyepakati suatu
situasi, dan jawaban ini kerap dipergunakan untuk bernegasi. saya mengiyakan
kata-kata ibu, meski jawaban tersebut terdengar hambar. Belakangan saya
mengerti, tidak menyukai barang milik orang lain merupakan larangan agar saya
tidak mencuri sesuatupun yang bukan milik saya. Dan dari situlah kesederhanaan
dapat saya pahami sebagai wujud syukur yang mendalam. Mantra yang magis. Kelas
satu aliyah adalah masa remaja manusia, sehingga umur saya waktu itu sudah
cukup menghawatirkan beliau, tentang betapa pada masa awal remaja saya
dihinggapi varian gejolak. Emosi yang meningkat dan penuh tantangan. Maka agar
terhindar dari kesalahan tingkah, beliau terlebih dahulu membenamkan tameng dalam
diriku. Beliau mengajariku bahasa, membentengi amarahku dengan kalimat tunduk
menyerang musuh. Saya tidak peduli kemudian jika banyak dari remaja sekarang
yang necisnya bukan main, masa remaja yang berapi-api dengan fesyen ala punk
klasik berkaca pada eksklusifitas kapitalisme. Benar kalau saya tidak mengalami
masa-masa ini, benar kalau saya, yang masa remaja saya harus terbuang percuma
dengan kehidupan ukhrowi. Namun saya tidak menyesalinya sambil mengeluh dengan
cacian Cuma-Cuma. Sebab pada siklus waktu yang lampau, ibu pernah mengantarkan
saya kepada makna hakiki kasih sayang, melalui mitologi sederhana adalah saya,
dan saya akan terus mensyukuri semua yang saya miliki. Dan belum tentu ada
banyak orang yang seberuntung saya di dunia ini.
Pada
ingatan silam yang saya sulit kekang, beberapa diantaranya saya lupa. Tapi
memori saya masih kuat menampung kenangan pahit tablet pil dan kapsul yang
selama enam bulan saya habiskan dalam penjara kesakitan, derita yang saya alami
pada permulaan kelas lima SD terngiang kembali sebagai masa yang paling suram
dalam hidupku. Ibu pada setiap hari yang telah ditentukan dokter mengantarkanku
berobat. Saya pingsan setiap kali penyakit itu kambuh. hingga pada kelas tiga
tsanawiyah, ketika saya jauh dari rumah, hari itu saya pingsan, selintas
setelah saya siuman, beliau mendekap saya dengan hangat, banyak diantara santri
yang mentertawai saya. Mungkin bagi mereka saya masih kekanakkan. Tapi saya
sekejap mengelak kemungkinan itu dengan pedang yang terbaring lembut dari dekapan
seorang ibu yang tidak lain merupakan titipan tangan malaikat yang mampu menghentak
debaran jantungku, komposisi organ yang membuat saya bernyawa seutuhnya ,
sebagai manusia. sehingga saya tidak perlu menghiraukan tertawaan dan cemoohan
orang. Saya belum tahu darimana ibu mendapat kabar saya pingsan, bahkan seperti
angin yang tiba-tiba datang tanpa meminta ijin dari sang peniup beliau secepat
itu mendatangiku. Saya membayangkan betapa perjalanan beliau menghabiskan
berjam-jam lamanya didalam angkot. Tapi durasi kecintaan beliau lebih cepat
dari waktu saya untuk memikirkan. Mungkin saya terlalu melambat.
pada
senja yang datangnya setiap hari saya mengingat beliau, tatkala bunuh diri
sudah seperti alasan saya satu-satunya. Dan seperti sebelumnya, beliau sekali
lagi melarang saya berbuat kesalahan. Hidup saya harus berjalan, apa adanya
bisa jadi adalah sujud syukur. Sehingga senja, adalah gejolak masa remaja yang terulang
setiap hari untuk merindukan ibu, warna yang kuning seperti kulit jeruk, kasing
sayang beliau yang abadi untukku. Dan bahkan ketika hari ini saya pingsan,
beliau adalah orang pertama yang akan mendekap saya hingga siuman.
jalanan,
adalah wujud sandaran kerinduan saya pada ayah. Beliau yang setiap hari bekerja
mati-matian di dalam kantor maupun di sawah, dari pagi buta hingga senja
mengucurkan keringat beliau. Beliau semasa saya kecil dulu sering menyanyikan
lagu-lagu rohani, beliau menggendong saya dalam teras rumah. Inilah lagu
sebelum tidur yang tak seorang anakpun dapatkan dari ayah mereka. Lagu ini saya
temui kembali ditengah harmoni alam, dan sekumpulan doa yang abu nawas cetuskan,
sebagai ungkapan eleginya pada tuhan, akan ketidaksanggupannya memasuki neraka
sekaligus surga.
Ayah
mengajari saya sebagai pekerja keras yang bertanggung jawab, beliau mengajari
pula hidup tanpa putus asa. Tuhan akan selalu bersama orang teguh dalam
pendirian. Malam lalu, sehabis hujan awal april, ayah menghubungiku via
telepon, bertanya kabar, bertanya masalah kuliah. Tidak memerlukan waktu banyak
beliau berpesan agar saya jangan pantang menyerah. Dalam situasi yang demikian
pelik, saya tidak pernah mengampuni diri saya sendiri. pun seandainya ayah tahu
nasib saya disini, mungkin beliau akan menampar mereka yang menghalangi anaknya.
Pesan beliau adalah pertanyaan kekhawatiran, saya mesti paham jikaa
kekhawatiran beliau menandaiku pelukan yang sama menjelang tidurku. Bahkan
hingga beliau rela terjaga. pertanyaan resah serupa yang mereinkarnasikan
repetisi suram akademisi yang menimpa saudaraku beberapa tahun lalu. Masalah
kuliah bukan perkara gampang yang bisa saya selesaikan. Dan dari pertanyaan
resah ayah, saya menanam benih dendam, mereka yang telah menghancurkan
mimpi-mimpiku, yang menghalangi perjalanan hasratku hari ini harus dapat dapat
kujamahi bantalnya, lalu membakar tidur mereka. Demi wirid ayah yang tersungkur
diatas sajadah daun pisang pematang sawah. Belakangan saya mengetahui bahwa
ayah dipindahtugaskan, dan saya bangkit ingin bersekolah setinggi mungkin, pada
saatnya nanti saya dapat melampaui mereka yang berkoalisi memindahtugaskan
ayah. Saya berjanji harus membalas. Dengan menunduk sambil menyerang musuhku.
Saya
selalu menipu orangtua, demi agar mereka tetap bahagia melihat saya. Mereka
dengan sepenuh hati menceritakan kebaikan anak-anaknya pada orang lain, meski toh
seringkali saya tidak pernah berbuat baik. Bahkan kebaikan anak dimata mereka
ternyata berkebalikan lima ratus derajat. Saya adalah anak durhaka, dan meminta
maaf adalah pekerjaan gampang yang tentu saja absurd untuk membalas jasa
mereka. Seandainya mereka tahu bagaimana kondisi saya sekarang,,, ada banyak
opsi kemungkinan tersedia. Memang. ah tapi saya belum mau membayangkannya,
sejauh berandai-andai itu tiba, saya tidak memiliki pilihan selain menghilang
selamanya.
Ayah
ibu adalah gabungan jalanan dan senja setiap hari yang saya rasakan dekapan mereka
sebelum dan ketika terbangun dari tidur. Apapun namanya, orang yang berteman
dengan bayangan dinamakan skizo atau skeptis. Orangtua saya hidup disini,
bayangan yang selalu nyata.
Maka
melalui jalinan cerita, entah itu dengan bercerita pada sahabat, atau mereka
yang baru saya kenal. Saya menceritakan kebaikan ayah ibu, hal itu adalah salah
satu wujud ungkapan kerinduan yang bertubi-tubi menerkam sadarku, hingga dengan
membaginya pada orang lain, mereka akan menjadi saksi kebaikan ayah ibu yang
mengutusku dengan berat hati atau akhirnya sepenuh hati menuju tanah jawa ini.
tulisan ini caraku berbagi cerita kepada mereka yang menyayangi orangtua mereka
dan lalu harus hidup berjauhan. Semoga seruan yang saya sebut doa ini
membangunkan tuhan yang selalu mendengar agar senantiasa melindungi orangtua
kami selama kami berjalan dikejauhan. serpihan petisi maaf seorang anak yang
tiada henti mengeluh.
Di
Sore yang cerah.
Jember,
17 april 2013, 16:35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar