Rabu, 17 April 2013

sandaran terbaik menjelang sore

Ibu, menenun sunyi setiap malam bahkan semenjak saya kecil rumah yang kami tinggali berjauhan dengan tetangga. Rumah yang dikelilingi sawah, siapapun yang berniat mencari pesugihan saya boleh saja menawarkan tempat yang strategis yaitu dirumah saya. Dan ibu, selalu sendirian disana. Menanam pilu pada anak-anaknya yang entah-berantah. Yang beliau tahu, anaknya sedang belajar mati-matian dikejauhan. Saya yang memberi tahu beliau, dan ini semua saya lakukan dihadapan ibu, berbohong, karena saya mencintai beliau dengan segenap akal yang mengalir dalam diri saya.
Kenyataan bahwa saya anak malas saya tutupi dengan demikian erat. Sekolah yang hampir mencapai kehancuran ini mengingatkan saya, sekali lagi dan berulang kali pada wejangan beliau agar saya terus bersabar. Pada momen akhir tahun 2003, saya baru kelas satu aliyah pada tahun itu, ibu berpesan kepada saya untuk tidak menyukai sesuatu yang menjadi milik orang lain. saya tidak mengetahui maksudnya, lantas menyepelekannya dengan ungkapan yang seadanya, jawaban ya barangkali adalah jawaban yang kerap digunakan orang ketika menyepakati suatu situasi, dan jawaban ini kerap dipergunakan untuk bernegasi. saya mengiyakan kata-kata ibu, meski jawaban tersebut terdengar hambar. Belakangan saya mengerti, tidak menyukai barang milik orang lain merupakan larangan agar saya tidak mencuri sesuatupun yang bukan milik saya. Dan dari situlah kesederhanaan dapat saya pahami sebagai wujud syukur yang mendalam. Mantra yang magis. Kelas satu aliyah adalah masa remaja manusia, sehingga umur saya waktu itu sudah cukup menghawatirkan beliau, tentang betapa pada masa awal remaja saya dihinggapi varian gejolak. Emosi yang meningkat dan penuh tantangan. Maka agar terhindar dari kesalahan tingkah, beliau terlebih dahulu membenamkan tameng dalam diriku. Beliau mengajariku bahasa, membentengi amarahku dengan kalimat tunduk menyerang musuh. Saya tidak peduli kemudian jika banyak dari remaja sekarang yang necisnya bukan main, masa remaja yang berapi-api dengan fesyen ala punk klasik berkaca pada eksklusifitas kapitalisme. Benar kalau saya tidak mengalami masa-masa ini, benar kalau saya, yang masa remaja saya harus terbuang percuma dengan kehidupan ukhrowi. Namun saya tidak menyesalinya sambil mengeluh dengan cacian Cuma-Cuma. Sebab pada siklus waktu yang lampau, ibu pernah mengantarkan saya kepada makna hakiki kasih sayang, melalui mitologi sederhana adalah saya, dan saya akan terus mensyukuri semua yang saya miliki. Dan belum tentu ada banyak orang yang seberuntung saya di dunia ini.
Pada ingatan silam yang saya sulit kekang, beberapa diantaranya saya lupa. Tapi memori saya masih kuat menampung kenangan pahit tablet pil dan kapsul yang selama enam bulan saya habiskan dalam penjara kesakitan, derita yang saya alami pada permulaan kelas lima SD terngiang kembali sebagai masa yang paling suram dalam hidupku. Ibu pada setiap hari yang telah ditentukan dokter mengantarkanku berobat. Saya pingsan setiap kali penyakit itu kambuh. hingga pada kelas tiga tsanawiyah, ketika saya jauh dari rumah, hari itu saya pingsan, selintas setelah saya siuman, beliau mendekap saya dengan hangat, banyak diantara santri yang mentertawai saya. Mungkin bagi mereka saya masih kekanakkan. Tapi saya sekejap mengelak kemungkinan itu dengan pedang yang terbaring lembut dari dekapan seorang ibu yang tidak lain merupakan titipan tangan malaikat yang mampu menghentak debaran jantungku, komposisi organ yang membuat saya bernyawa seutuhnya , sebagai manusia. sehingga saya tidak perlu menghiraukan tertawaan dan cemoohan orang. Saya belum tahu darimana ibu mendapat kabar saya pingsan, bahkan seperti angin yang tiba-tiba datang tanpa meminta ijin dari sang peniup beliau secepat itu mendatangiku. Saya membayangkan betapa perjalanan beliau menghabiskan berjam-jam lamanya didalam angkot. Tapi durasi kecintaan beliau lebih cepat dari waktu saya untuk memikirkan. Mungkin saya terlalu melambat.
pada senja yang datangnya setiap hari saya mengingat beliau, tatkala bunuh diri sudah seperti alasan saya satu-satunya. Dan seperti sebelumnya, beliau sekali lagi melarang saya berbuat kesalahan. Hidup saya harus berjalan, apa adanya bisa jadi adalah sujud syukur. Sehingga senja, adalah gejolak masa remaja yang terulang setiap hari untuk merindukan ibu, warna yang kuning seperti kulit jeruk, kasing sayang beliau yang abadi untukku. Dan bahkan ketika hari ini saya pingsan, beliau adalah orang pertama yang akan mendekap saya hingga siuman.
jalanan, adalah wujud sandaran kerinduan saya pada ayah. Beliau yang setiap hari bekerja mati-matian di dalam kantor maupun di sawah, dari pagi buta hingga senja mengucurkan keringat beliau. Beliau semasa saya kecil dulu sering menyanyikan lagu-lagu rohani, beliau menggendong saya dalam teras rumah. Inilah lagu sebelum tidur yang tak seorang anakpun dapatkan dari ayah mereka. Lagu ini saya temui kembali ditengah harmoni alam, dan sekumpulan doa yang abu nawas cetuskan, sebagai ungkapan eleginya pada tuhan, akan ketidaksanggupannya memasuki neraka sekaligus surga.
Ayah mengajari saya sebagai pekerja keras yang bertanggung jawab, beliau mengajari pula hidup tanpa putus asa. Tuhan akan selalu bersama orang teguh dalam pendirian. Malam lalu, sehabis hujan awal april, ayah menghubungiku via telepon, bertanya kabar, bertanya masalah kuliah. Tidak memerlukan waktu banyak beliau berpesan agar saya jangan pantang menyerah. Dalam situasi yang demikian pelik, saya tidak pernah mengampuni diri saya sendiri. pun seandainya ayah tahu nasib saya disini, mungkin beliau akan menampar mereka yang menghalangi anaknya. Pesan beliau adalah pertanyaan kekhawatiran, saya mesti paham jikaa kekhawatiran beliau menandaiku pelukan yang sama menjelang tidurku. Bahkan hingga beliau rela terjaga. pertanyaan resah serupa yang mereinkarnasikan repetisi suram akademisi yang menimpa saudaraku beberapa tahun lalu. Masalah kuliah bukan perkara gampang yang bisa saya selesaikan. Dan dari pertanyaan resah ayah, saya menanam benih dendam, mereka yang telah menghancurkan mimpi-mimpiku, yang menghalangi perjalanan hasratku hari ini harus dapat dapat kujamahi bantalnya, lalu membakar tidur mereka. Demi wirid ayah yang tersungkur diatas sajadah daun pisang pematang sawah. Belakangan saya mengetahui bahwa ayah dipindahtugaskan, dan saya bangkit ingin bersekolah setinggi mungkin, pada saatnya nanti saya dapat melampaui mereka yang berkoalisi memindahtugaskan ayah. Saya berjanji harus membalas. Dengan menunduk sambil menyerang musuhku.
Saya selalu menipu orangtua, demi agar mereka tetap bahagia melihat saya. Mereka dengan sepenuh hati menceritakan kebaikan anak-anaknya pada orang lain, meski toh seringkali saya tidak pernah berbuat baik. Bahkan kebaikan anak dimata mereka ternyata berkebalikan lima ratus derajat. Saya adalah anak durhaka, dan meminta maaf adalah pekerjaan gampang yang tentu saja absurd untuk membalas jasa mereka. Seandainya mereka tahu bagaimana kondisi saya sekarang,,, ada banyak opsi kemungkinan tersedia. Memang. ah tapi saya belum mau membayangkannya, sejauh berandai-andai itu tiba, saya tidak memiliki pilihan selain menghilang selamanya.
Ayah ibu adalah gabungan jalanan dan senja setiap hari yang saya rasakan dekapan mereka sebelum dan ketika terbangun dari tidur. Apapun namanya, orang yang berteman dengan bayangan dinamakan skizo atau skeptis. Orangtua saya hidup disini, bayangan yang selalu nyata.
Maka melalui jalinan cerita, entah itu dengan bercerita pada sahabat, atau mereka yang baru saya kenal. Saya menceritakan kebaikan ayah ibu, hal itu adalah salah satu wujud ungkapan kerinduan yang bertubi-tubi menerkam sadarku, hingga dengan membaginya pada orang lain, mereka akan menjadi saksi kebaikan ayah ibu yang mengutusku dengan berat hati atau akhirnya sepenuh hati menuju tanah jawa ini. tulisan ini caraku berbagi cerita kepada mereka yang menyayangi orangtua mereka dan lalu harus hidup berjauhan. Semoga seruan yang saya sebut doa ini membangunkan tuhan yang selalu mendengar agar senantiasa melindungi orangtua kami selama kami berjalan dikejauhan. serpihan petisi maaf seorang anak yang tiada henti mengeluh.
Di Sore yang cerah.
Jember, 17 april 2013, 16:35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar