Rabu, 17 April 2013

sandaran terbaik di pagi hari

Kehidupan yang paling sempurna adalah kehidupan saya yang memiliki orang tua, membesarkan saya sampai sekarang. Saya diliputi kegundahan kalau saat ini waktu saya bersama mereka telah banyak hilang ditelan saya lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Barangkali inilah yang saya rasakan. Mereka sering membicarakan kedamaian ditengah-tengah orang. Ayah dan ibu menentukanku arah yang seharusnya kutuju. Orangtua mana yang tidak bahagia melihat anak-anaknya sukses. Orangtua mana yang tidak bahagia melihat anaknya berbakti. Semenjak lulus sekolah dasar, saya melanjutkan sekolah ke madrasah tsanawiyah. Semata-mata agar saya terlihat baik ketika berhadapan dengan ayah ibu, meski di suatu kali saya akhirnya menyadari dengan pasti bahwa saya akan tergugah untuk menjadi penipu ulung.
Ibu adalah manusia yang mengunci karakterku dengan beragam cerita riwayat. Beliau sering bercerita mengenai masa kecilku yang kurang bahagia. Mengenai kisah semasa beliau melanjutkan sekolah meskipun dimarahi nenekku. beliau tidak pernah ingin hidup terlalu jauh dari anaknya. Karena selama anaknya masih dalam jangkauannya, beliau akan merasa tenang. Awal masuk tsanawiyah adalah hari yang kuingat dimana ibu menentang keras niat ayah yang memasukkanku ke pondok pesantren. Beliau mengutip kisah kakakku yang nasibnya terlebih dahulu harus berjauhan. Beliau mencurahkan kasih sayangnya hanya untuk anak-anaknya.
Ketika saya beranjak masuk perguruan tinggi. Saya termasuk salah satu orang yang beruntung karena lulus lulus seleksi di umptn luar pulau. Selama satu minggu ibu mengabaikanku, tanpa pernah bertanya ataupun menyapaku. Namun ketololan waktu itulah yang membuat saya merasa kalau tindakan saya itu benar. Di dalam hatinya, beliau menyimpan banyak rahasia besar, bahwa dibalik rahasia besarnya, beliau selalu ingin menyapa anak-anaknya kala subuh, sekedar membangunkan sholat. Pilihan sayalah yang meretas semua ini, kebersamaan antara ibu dan saya. Ditengah-tengah pekerjaan berat, tubuh beliau yang akhir-akhir ini sering mengalami sakit. Saya tahu mental ibu mulai lemah, terakhir saya menjumpai pada rambtnya terselip beberapa bilah warna yang memutih. Umur yang renta sejalan dengan kasih sayang beliau yang terkikis udara kerinduan pada anaknya.
Hal itu mempersulit saya. Mengenai ingatan yang di tempat yang jauh ini beliau tak dapat kutemui, bahkan saya tidak sempat menciumi tangan ibu sepulang mengajar dari sekolah lagi. Saya tahu maksud ibu, sejengkal arti dari elemen rahasia besar ibu itu. Adalah hakekat yang tersisa dari umurku yang sudah sekian. Ketika ibu bersikeras menolak keinginan ayah menyekolahkanku jauh dari rumah, ibu mengatakan hal yang sangat mencengangkan, “kapan aku bisa bersama lebih lama dengan anakku, apa tuhan hanya mengangerahiku 12 tahun” dari balik daun pintu saya mendengar pertengkaran mereka.
Tiga tahun yang dulu. Saya menikmati Liburan panjang dirumah. Tentu momen seperti itu saya habiskan dengan pergi memandu obrolan dengan kawan-kawan lama tidak saya jumpai kecuali lewat ponsel. Waktu-waktuku di rumah habis kucurahkan pada mereka yang tinggalnya agak jauh dari rumah. Dan kepergianku waktu itu, maksudku perjalananku ke tanah jawa. diselimuti kesedihan seakan saya tengah mimpi, sedang meninggalkan rumah. Kepergianku itu tidak naik bis apalagi pesawat. Truk mungkin saran paling mutakhir untuk transportasiku. Sebelum saya berangkat. Dua kali ibu membuka pintu truk, beliau melihatku sambil menangis, airmatanya tidak mampu kuseka, airmata yang membawa beban berat dalam benakku. Beliau meraung “anakku, anakku, anakku!” seperti rasul yang khawatir terhadap kehancuran moral umat yang akan segera ditinggalkannya. Tangis itu terus membayangi perjalananku, tidak semenitpun dari imajiku menghentikan cercaan dalam kepala, betapa saya telah menjadi pendosa terberat, tangis ibu adalah ungkapan harap. Kalaupun saya tidak bertemu beliau setiap pagi, Beliau tidak tahu sebenarnya, saya berlari setiap hari dari pikiran yang terhimpit banyak alasan palsu ditempat ini, setiap hari saya diliputi kesedihan. saya merindukan beliau seperti pula saya tidak harus dilahirkan ke dunia. Maka saya merasa ibu masih selalu menggendongku, dengan lagu-lagu jaman kerajaan, melalui do’a, melalui tabuhan upayaku untuk segera lulus sekolah, saya akan kembali untuk ibu. Dan maha benar tuhan, semoga tuhan menjaga ibuku selalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar