Kehidupan yang paling sempurna adalah
kehidupan saya yang memiliki orang
tua, membesarkan saya sampai
sekarang. Saya diliputi kegundahan kalau saat ini waktu saya bersama mereka
telah banyak hilang ditelan saya lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Barangkali inilah
yang saya rasakan. Mereka sering membicarakan kedamaian ditengah-tengah orang.
Ayah dan ibu menentukanku arah yang seharusnya kutuju. Orangtua mana yang tidak
bahagia melihat anak-anaknya sukses. Orangtua mana yang tidak bahagia melihat
anaknya berbakti. Semenjak lulus sekolah dasar, saya melanjutkan sekolah ke
madrasah tsanawiyah. Semata-mata agar saya terlihat baik ketika berhadapan
dengan ayah ibu, meski di suatu kali saya akhirnya menyadari dengan pasti bahwa
saya akan tergugah untuk menjadi penipu ulung.
Ibu adalah manusia yang mengunci
karakterku dengan beragam cerita riwayat. Beliau sering bercerita mengenai masa
kecilku yang kurang bahagia. Mengenai kisah semasa beliau melanjutkan sekolah
meskipun dimarahi nenekku. beliau tidak pernah ingin hidup terlalu jauh dari
anaknya. Karena selama anaknya masih dalam jangkauannya, beliau akan merasa
tenang. Awal masuk tsanawiyah adalah hari yang kuingat dimana ibu menentang
keras niat ayah yang memasukkanku ke pondok pesantren. Beliau mengutip kisah kakakku yang nasibnya
terlebih dahulu harus berjauhan. Beliau mencurahkan kasih sayangnya hanya untuk
anak-anaknya.
Ketika saya beranjak masuk perguruan
tinggi. Saya termasuk salah satu orang yang beruntung karena lulus lulus
seleksi di umptn luar pulau. Selama satu minggu ibu mengabaikanku, tanpa pernah
bertanya ataupun menyapaku. Namun ketololan waktu itulah yang membuat saya
merasa kalau tindakan saya itu benar. Di dalam hatinya, beliau menyimpan banyak
rahasia besar, bahwa dibalik rahasia besarnya, beliau selalu ingin menyapa
anak-anaknya kala subuh,
sekedar membangunkan sholat. Pilihan sayalah yang meretas semua ini,
kebersamaan antara ibu dan saya. Ditengah-tengah pekerjaan berat, tubuh beliau yang akhir-akhir ini sering
mengalami sakit. Saya tahu mental ibu mulai lemah, terakhir saya menjumpai pada
rambtnya terselip beberapa bilah warna yang memutih. Umur yang renta sejalan
dengan kasih sayang beliau yang terkikis udara kerinduan pada anaknya.
Hal itu mempersulit saya. Mengenai
ingatan yang di tempat yang jauh ini beliau tak
dapat kutemui, bahkan saya tidak sempat menciumi tangan ibu sepulang mengajar
dari sekolah lagi. Saya tahu maksud ibu, sejengkal arti dari elemen rahasia
besar ibu itu. Adalah hakekat yang tersisa dari umurku yang sudah sekian.
Ketika ibu bersikeras menolak keinginan ayah menyekolahkanku jauh dari rumah,
ibu mengatakan hal yang sangat mencengangkan, “kapan aku bisa bersama lebih
lama dengan anakku, apa tuhan hanya mengangerahiku 12 tahun” dari balik daun
pintu saya mendengar pertengkaran mereka.
Tiga tahun yang dulu. Saya menikmati Liburan panjang dirumah. Tentu
momen seperti itu saya habiskan dengan pergi memandu obrolan dengan kawan-kawan
lama tidak saya jumpai kecuali
lewat ponsel. Waktu-waktuku di rumah habis
kucurahkan pada mereka yang tinggalnya agak jauh
dari rumah. Dan kepergianku waktu itu, maksudku perjalananku ke tanah jawa. diselimuti kesedihan seakan
saya tengah
mimpi, sedang meninggalkan rumah. Kepergianku itu tidak naik bis apalagi
pesawat. Truk mungkin saran paling mutakhir untuk
transportasiku. Sebelum saya berangkat. Dua kali ibu membuka pintu truk, beliau
melihatku sambil menangis, airmatanya tidak mampu kuseka, airmata yang membawa
beban berat dalam benakku. Beliau meraung “anakku, anakku, anakku!” seperti rasul yang khawatir
terhadap kehancuran moral umat yang akan segera ditinggalkannya.
Tangis itu terus membayangi perjalananku, tidak semenitpun dari imajiku menghentikan
cercaan dalam kepala, betapa saya telah menjadi pendosa terberat, tangis ibu
adalah ungkapan harap. Kalaupun saya tidak bertemu beliau setiap pagi, Beliau
tidak tahu sebenarnya, saya berlari setiap hari dari pikiran yang terhimpit
banyak alasan palsu ditempat ini, setiap hari saya diliputi kesedihan. saya
merindukan beliau seperti pula saya tidak harus dilahirkan ke dunia. Maka saya
merasa ibu masih selalu
menggendongku, dengan lagu-lagu jaman kerajaan, melalui do’a, melalui tabuhan
upayaku untuk segera lulus sekolah, saya akan kembali untuk ibu. Dan maha benar
tuhan, semoga tuhan menjaga ibuku selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar