nasi tidak jadi bubur, nasi sudah basi, berjamur sebelum mulutku sempat berbaur mencobanya. nasi sudah basi, melepuh ditelanjangi belatung yang kerap memainkan perangai bejatnya tanpa tahu malu mengobrak-abrik seisi sisa. nasi sudah basi, hampir berjamur sebelum aku menghayalkan tujuan menjemurnya. nasi sudah basi. itu doang. aku ingin memakannya sebelum cahil mencegahku. nasi itu akan kita awetkan nanti, pungkasnya. yang aku tahu cahil membiarkan nasi tidak jadi bubur. cahil menunggu waktu, waktu lama agar aku lekas pergi dari sini. sudah aku turuti. tapi telah kutinggalkan sesuatu. sesuatu yang banget aja. ehm..
aku menaruh satu mataku diujung senapan, kubidikkan ke arah yang paling menyenangkan tepat ditengah-tengah nasi. mataku yang satunya telah kuikat dipinggul sejarah kelahiran belatung. tidak penting-penting amat. toh juga keluhanku subur menumbuhi wafat. sebelumnya, kepentingan berbisik manja kepada sang jagal, agar aku menjerit histeris melihat nasi yang sudah basi, serupa perempuan di tokyo hot atau penonton setia seorang artis yang er-nya berganti u.
aku pergi bersama jejakmu. tidak akan kuikuti peterpan dengan lirik menghapus jejakmu kalau itu adalah jejak tangisanmu. dihatiku, telah kuumumkan nama cahil yang menunggu nasi yang kini sudah basi. biar orang mengerti, nasi itu ia suguhkan buat tamu-tamu yang lahir pasca kehancuran.
tenang saja, semua bintang telah kujaring malam ini. khusus buat penerangmu cahil! tuhan akan kau cerca dalam syukurmu. hilang dan pergiku, adalah mata-mata yang tertinggal. sebentar lagi. semuanya harus hancur. pengabolisian ini telah aku percepat dari waktu yang kau kira. nanti aku akan buta, melupa sebelum sempat membayangkan malam getir. aku yakin wajahmu akan memucat kekurangan darah sabar, kau akan menggigil dengan klimaks gelisah selama menunggu. dan terlambat. nasi sudah basi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar