Kita membuang bayangan kita ke tengah jalanan
Lalu meninggalkannya sirna tertutup awan
Kuburan tua mesra memojokkan diam
Menjelang senja, kuziarahi dengan peniti hitam
Namun aku tidak bisa lagi menjangkaunya sedekat sekaratku
Disana, Kau masih
termangu menatap matahari
Aku raga dan anti-raga
Menatapmu dari kejauhan
imaji kita kusimpan rapat di museum kematian
Hingga hari akhir akan menyumbang maaf pada senyum kita
Yang kau telah boikot dari lantunan
Aku lampiaskan rindu kepada ruang kosong
Menyuratimu surat ke-biru-hitaman
Apakah aku masih bisa menangisi waktu?
Perlahan kau bekukan air yang tercemar darah
Kau melesungkan pipimu disisi senyum
Fragmen yang membalas nazar
yang kita sulam di pertemuan siang
lalu kau kabulkan sementara
janjiku terbatas, kemarin, hari ini...mari kita lupa diri
cahil!
Nadiku telah kau selipkan duri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar