Senin, 01 April 2013

bunga yang pulang


Seorang pemberontak memang sudah seharusnya siap kembali pada masa lalu, untuk kembali pada masa kini dengan seikat bunga di satu tangan, dan sebuah pistol di tangan lainnya!
....oleh kakakku yang baru saja dianugerahi anak, sebagai generasi selanjutnya. Masa depan eksistensinya sebagai manusia. Berdasarkan apa yang telah aku alami. Secara  rancau aku mulai melihat maksudnya. Bahwasanya kembali ke masa lalu adalah tindakan yang mustahil untuk mereview  keadaannya, sebab setiap detik kita tengah berjalan meninggalkan masa lalu. Lalu kucoba memangkas semua penglihatanku untuk sekedar memikirkan apa yang telah lewat, segala hal yang terabaikan dari masa lalu, kenangan silam yang membuntuti  mental dan tingkah lakuku.
Aku mengingatnya dengan tidak sespesifik bermain angka. Sebab angka yang kumaksud disini itu tidak pasti. Aku menghitung jumlah umurku untuk mengulang kembali getir-getir lampau yang memang masih melekat sampai sekarang. Enam tahun memanjakan diri  dengan status mahasiswa, enam tahun berdiri tegak di sekolah keagamaan, enam tahun masa kecil yang berhiaskan permainan. Masa kecil saja yang tersisa, dari suatu permainan waktu. Sedangkan setelahnya, aku menopengi diriku dengan keseriusan yang akut. Hamper setiap hari aku menyesali,mengeluhkan keadaan, sinis terhadap apa yang berbeda dengan pikiran. Semua ini kujalani dengan berpura-pura menerima kenyataan bahwa aku memang harus seperti ini. Kronis.
Masa laluku, yang penuh luka dan airmata kalau diingat. Bukan airmata bahagia pastinya. Masa itu telah menjadi sebilah dendam yang setiap harinya menumpuk dalam dadaku, seperti niat yang jahat untuk kembali ke masa itu, menguakkannya di masa sekarang dengan dendam. Balas dendam seperti taktis mematikan, sebelum semuanya terlambat untuk ku sadari.
Dendam yang absurd
Absurditas menglangi masa lalu namun masih hidup hingga sekarang sama halnya menghancurkan film yang baru dibeli dari toko dengan harga mahal akan tetapi isinya berbeda dari apa yang kita inginkan, atau jauh distortif dari sampul  yang menagih hasrat kita membelinya.
Dendam adalah penyakit yang tidak wajar. Maraknya peristiwa pembunuhan manusia yang ditampilkan oleh televise menandakan bahwa banyak dendam  yang terpendam dalam diri manusia. Ketika perang antar Negara antara jerman dengan italia sebenarnya dipicu oleh rasa sakit hati hitler kepada musollini. Atau kisah kerajaan dimasa lalu yang berperang karena hal yang boleh jadi sepele karena masalah jodoh sang raja. Kasus-kasus yang telah aku sebutkan diatas selalu berakhir dengan pengorbanan dan kematian. Pengorbanan banyak nyawa hanya karena permasalahan individual dipucuk kekuasaan kelompok, dengan satu kata saja akan cukup untuk mengkompensasikan sakit hati sang tuan. Kematian tidak lagi berharga.
Tapi dendamku tidak setragis itu tadi, harus berakhir dengan pembunuhan fisik. Makhluk hidup semuanya memiliki hak untuk hidup. Dendamku ini hanya milikku, dan untuk masa laluku yang penuh dengan kekalahan, aku harus mengganti system yang selama ini mengalir di dalam kepalaku. System-sistem yang tidak pantas untuk hidup dengan system baru yang memang memerlukan hasrat dan persenjataan yang lebih mutakhir.
Dalam proses yang demikian ini, aku harus berani menantang dan melawan satu penyakit, namanya rasa takut. Mana mungkin aku bisa membalas dendam sedangkan aku masih memelihara penyakit takut dalam diriku. Maka untuk perlawanan ini aku harus kuat, mengasah senjataku, rasa takut yang semestinya hancur sebelum aku melawan keluar, sebab setelah itu dendam akan mulai menemukan manifestasi pembalasannya suatu hari nanti,meskipun terdengar mustahil,tapi dalam kemustahilan, terdapat kemungkinan yang lain,bahwa aku pasti akan mendiskursuskan imajiku hari ini.
Bunga adalah symbol kebahagiaan, symbol untuk sesuatu yang positif.
Dan Pistol untuk membunuh matinya kreasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar