Seorang pemberontak memang sudah
seharusnya siap kembali pada masa lalu, untuk kembali pada masa kini dengan
seikat bunga di satu tangan, dan sebuah pistol di tangan lainnya!
....oleh kakakku
yang baru saja dianugerahi anak, sebagai generasi selanjutnya. Masa depan
eksistensinya sebagai manusia. Berdasarkan apa yang telah aku alami.
Secara rancau aku mulai melihat
maksudnya. Bahwasanya kembali ke masa lalu adalah tindakan yang mustahil untuk mereview keadaannya, sebab setiap detik kita tengah
berjalan meninggalkan masa lalu. Lalu kucoba memangkas semua penglihatanku untuk sekedar memikirkan
apa yang telah lewat, segala hal yang terabaikan dari masa lalu, kenangan silam
yang membuntuti mental dan tingkah
lakuku.
Aku mengingatnya dengan tidak
sespesifik bermain angka. Sebab angka yang kumaksud disini itu tidak pasti. Aku
menghitung jumlah umurku untuk mengulang kembali getir-getir lampau yang memang
masih melekat sampai sekarang. Enam tahun memanjakan diri dengan status mahasiswa, enam tahun berdiri
tegak di sekolah keagamaan, enam tahun masa kecil yang berhiaskan permainan.
Masa kecil saja yang tersisa, dari suatu permainan waktu. Sedangkan setelahnya,
aku menopengi diriku dengan keseriusan yang akut. Hamper setiap hari aku
menyesali,mengeluhkan keadaan, sinis terhadap apa yang berbeda dengan pikiran.
Semua ini kujalani dengan berpura-pura menerima
kenyataan bahwa aku memang harus seperti ini. Kronis.
Masa laluku, yang penuh luka dan
airmata kalau diingat. Bukan airmata bahagia pastinya. Masa itu telah menjadi
sebilah dendam yang setiap harinya menumpuk dalam dadaku, seperti niat yang
jahat untuk kembali ke masa itu, menguakkannya di masa sekarang dengan dendam.
Balas dendam seperti taktis mematikan, sebelum semuanya terlambat untuk ku
sadari.
Dendam yang absurd
Absurditas menglangi masa lalu namun
masih hidup hingga sekarang sama halnya menghancurkan film yang baru dibeli
dari toko dengan
harga mahal akan tetapi isinya berbeda dari apa yang kita inginkan, atau jauh
distortif dari sampul yang menagih
hasrat kita membelinya.
Dendam adalah penyakit yang tidak
wajar. Maraknya peristiwa pembunuhan manusia yang ditampilkan oleh televise
menandakan bahwa banyak dendam yang
terpendam dalam diri manusia. Ketika perang antar Negara antara jerman dengan
italia sebenarnya dipicu oleh rasa sakit hati hitler kepada musollini. Atau
kisah kerajaan dimasa lalu yang berperang karena hal yang boleh jadi sepele
karena masalah jodoh sang raja. Kasus-kasus yang telah aku sebutkan diatas
selalu berakhir dengan pengorbanan dan kematian. Pengorbanan banyak nyawa hanya
karena permasalahan individual dipucuk kekuasaan kelompok, dengan satu kata
saja akan cukup untuk mengkompensasikan sakit hati sang tuan. Kematian tidak
lagi berharga.
Tapi dendamku tidak setragis itu
tadi, harus berakhir dengan pembunuhan fisik. Makhluk hidup semuanya memiliki
hak untuk hidup. Dendamku ini hanya milikku, dan untuk masa laluku yang penuh
dengan kekalahan, aku harus mengganti system yang selama ini mengalir di dalam kepalaku.
System-sistem yang tidak pantas untuk hidup dengan system baru yang memang
memerlukan hasrat dan persenjataan yang lebih mutakhir.
Dalam proses yang demikian ini, aku
harus berani menantang dan melawan satu penyakit, namanya rasa takut. Mana mungkin
aku bisa
membalas dendam sedangkan aku masih memelihara penyakit takut dalam diriku.
Maka untuk perlawanan ini aku harus kuat, mengasah senjataku, rasa takut
yang semestinya hancur
sebelum aku melawan keluar, sebab setelah itu dendam akan
mulai menemukan manifestasi pembalasannya suatu hari nanti,meskipun terdengar
mustahil,tapi dalam kemustahilan, terdapat kemungkinan yang lain,bahwa aku
pasti akan mendiskursuskan imajiku hari ini.
Bunga adalah symbol kebahagiaan,
symbol untuk sesuatu yang positif.
Dan Pistol
untuk membunuh matinya kreasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar