Sabtu, 09 Maret 2013

setengah merdeka


Aku lahir di usia setengah merdeka. Setengah yang lain adalah dari bintik teras kehidupan kekasihku. Ketika hujan menyemat senyum dirinya, aku merasa aku sedang merdeka. Benarkah? Lalu kubingkai kembali senja kemerdekaan yang mereka rangkum dalam bahasa upacara bendera, dimana aku dituntut menghormati merah putih yang berlomba mengiringi nyanyian yang katanya perjuangan. Aku mendengar teriakan setiap pagi, teriakan peluru yang sering berhembus dari mulut senapan yang mulia untuk muria. Petani yang dilabeli komunis, pendekar pedesaan yang ditimpa nasib menyedihkan. Apakah aku merdeka? Benar-benar merdeka? Aku hanya akan merdeka setelah orang yang berada disekelilingku tidak lagi memikirkan lapar. Maka ini separuh merdekaku.
Kekasihku pernah menabur imaji surga dihatiku, menanami hunian yang kumuh dengan benih bunga yang variatif.pupuknya berasal dari sampah janin yang sekarat. Aku kembali merasa hidup merdeka. Jiwa penakut yang beberapa kali mencoba memasukiku dikibaskannya dengan sayap yang kuat, serupa kasih saying yang tertuang dari ibuku. Kekasihku menemani ruhku yang kesepian, kekasihku menikam ketakutanku dengan pedang kebebasan, hingga setiap hari aku tersenyum kalau harus memikirkannya. Ia mengajariku mencuri bara. Aku membiarkan instingku liar berlari, Demi menafkahi rasa lapar mimpiku.
Ini separuh merdekaku. Setelah satu kemerdekaanku direnggut proyeksi pintu rumah yang sampai hari ini terkunci rapat untukku pulang. Masih ingatkah kau petuah pendahulumu? Ungkap ayahku. Aku tidak menjawabnya, diam tanpa seribu, seratus, ataupun satu bahasa. Hanya diam. Dikeheningan aku biasanya meraba resonasi yang mungkin bisa menghiburku. Konsep pendahulu adalah pelajaran yang sewaktu-waktu mengukur manusia dengan jargon yang binasa, terkutuk, lupa daratan dan sebagainya. Stigma ini tentu menyakitkan. Padahal beberapa diantara pendahuluku belum tentu setuju dengan iming-iming kerja untuk hidup, jika saja mereka melihat tingkah sekolahku yang anti humanis.
Namun aku beruntung, hariku bertebaran bahagia. Karena menghindar berarti menyerah. Teruskan jalanmu! kata kekasihku. Ia tampaknya mulai mengenali api yang hampir padam. setengah merdekaku telah kusimpan rapi, sebungkus senyum kekasihku mengatup laparku selama perjalanan, hujan senja kemarin bersamanya adalah tongkatku menabik senja yang akan datang. Ia doa dalam hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar