Aku lahir di usia setengah
merdeka. Setengah yang lain adalah dari bintik teras kehidupan kekasihku.
Ketika hujan menyemat senyum dirinya, aku merasa aku sedang merdeka. Benarkah?
Lalu kubingkai kembali senja kemerdekaan yang mereka rangkum dalam bahasa upacara
bendera, dimana aku dituntut menghormati merah putih yang berlomba mengiringi
nyanyian yang katanya perjuangan. Aku mendengar teriakan setiap pagi, teriakan
peluru yang sering berhembus dari mulut senapan yang mulia untuk muria. Petani
yang dilabeli komunis, pendekar pedesaan yang ditimpa nasib menyedihkan. Apakah
aku merdeka? Benar-benar merdeka? Aku hanya akan merdeka setelah orang yang
berada disekelilingku tidak lagi memikirkan lapar. Maka ini separuh merdekaku.
Kekasihku pernah menabur imaji
surga dihatiku, menanami hunian yang kumuh dengan benih bunga yang variatif.pupuknya
berasal dari sampah janin yang sekarat. Aku kembali merasa hidup merdeka. Jiwa
penakut yang beberapa kali mencoba memasukiku dikibaskannya dengan sayap yang
kuat, serupa kasih saying yang tertuang dari ibuku. Kekasihku menemani ruhku
yang kesepian, kekasihku menikam ketakutanku dengan pedang kebebasan, hingga
setiap hari aku tersenyum kalau harus memikirkannya. Ia mengajariku mencuri
bara. Aku membiarkan instingku liar berlari, Demi menafkahi rasa lapar mimpiku.
Ini separuh merdekaku. Setelah
satu kemerdekaanku direnggut proyeksi pintu rumah yang sampai hari ini terkunci
rapat untukku pulang. Masih ingatkah kau petuah pendahulumu? Ungkap ayahku. Aku
tidak menjawabnya, diam tanpa seribu, seratus, ataupun satu bahasa. Hanya diam.
Dikeheningan aku biasanya meraba resonasi yang mungkin bisa menghiburku. Konsep
pendahulu adalah pelajaran yang sewaktu-waktu mengukur manusia dengan jargon
yang binasa, terkutuk, lupa daratan dan sebagainya. Stigma ini tentu
menyakitkan. Padahal beberapa diantara pendahuluku belum tentu setuju dengan
iming-iming kerja untuk hidup, jika saja mereka melihat tingkah sekolahku yang
anti humanis.
Namun aku beruntung, hariku
bertebaran bahagia. Karena menghindar berarti menyerah. Teruskan jalanmu! kata
kekasihku. Ia tampaknya mulai mengenali api yang hampir padam. setengah
merdekaku telah kusimpan rapi, sebungkus senyum kekasihku mengatup laparku
selama perjalanan, hujan senja kemarin bersamanya adalah tongkatku menabik
senja yang akan datang. Ia doa dalam hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar