Rabu, 02 Januari 2013

alah, khianat berlapis keju rayu

masalahku adalah apa yang tidak kuketahui dari terminologi masalah
.apa yang tidak kuketahui sengaja ditutupi agar yang kulihat tetap sebagaimana adanya, kata orang seperti air mengalir
."jalan hidup yang kau pilih apa?" ambisiusnya yang berlebihan membuat mulutku gemetar berkata "jangan!", gambar-gambar di dinding kamarku mulai tertawa, meski begitu mereka masih setia menemani, memberikan jamuan terhangatnya setiap kali aku kedatangan tamu, namanya bosan... siapa yang kuat dialah yang menjadi pemenang, itu sudah ketetapan di hukum rimba, kata bosan. nasehat yang menjengkelkan
maka mengeluhlah gambar-gambar ini, mengeluh karena kepulanganku dari pencarian orang yang kemarin, ternyata sia-sia, kuusap mereka satu-persatu, teman yang selalu mencumbui mataku, ketika kebosanan berkunjung, ketika mereka menyaksikan kekalahan, aku bercerita kepada mereka, gambar-gambarku
."seseorang telah mengejekku, ia telah meninggalkan noda diatas noda lama, bukankah aku konyol?! ia melemparkan batu ke wajahku tanpa dosa dan beban, tahukah kalian apa yang dikatakannya? kita masih bisa berteman.." wahh... gambar-gambarku! katakan saja ini lelucon! setelah ia melempar batu, sekarang aku harus berterimakasih padanya! bukankah salah satu rukun haji itu melempar batu disebuah sumur besar yang berisi iblis? sunnah bagi mereka. gambar-gambarku katakan apa yang kalian saksikan selama ini bersamaku! apakah aku ini iblis? jika jawaban kalian aku ini iblis, siapakah yang pernah kupaksa mengikutiku? dirinya kah? karena selama ini aku diam menuruti keinginannya.. memberikan kebebasan mutlak padanya
.gambar-gambarku! sampaikan kepada tuhan! kalaupun surga yang dijanjikannya tidak ada, aku tetap akan mengikuti perintahNya, sebab tuhanku ada didalam hati, tidak hanya didalam pikiran dan mulut, tidak juga sebatas pada kain yang melekat ditubuhku..
.gambar-gambarku dengarlah! semua pilihan itu salah, semua pilihan itu benar, maka dendam hari ini, harus lunas kemudian hari..
.disudut kota tempat ia berada, aku menitip seru, menitip hasrat yang suatu saat akan kuambil kembali apa yang seharusnya pernah menjadi milikku.
.aku tidak ingin mengganggunya, agar ia paham, aku menyayanginya dengan menjadi orang lain, seandainya aku menjadi diri sendiri kemarin, sudah kurusak tahun barunya, sudah kubunuh orang yang bersama dirinya, tapi aku sadar aku salah menghayalkan perbuatan keji tadi, aku sedang menjadi orang lain saat ini, menitip hasratku ditempatnya saja itu sudah cukup, sedikit lebih menenangkanku daripada harus menutupi kosong, kelak pada waktunya, aku akan kembali lagi mengambilnya, lalu hasratku akan memainkan hukum dimana aku yang menjadi hakim sekaligus jaksa dan eksekutor, sedangkan ia sebagai terdakwa yang harus menjelaskan masalah dan mengeksplanasikan seluruh resonasi yang terjadi antara aku "dan" dirinya...
.gambar-gambarku! terimakasih tawamu itu, untukku!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar