Deru gemercik
dedaunan menyapa air hujan
Dia mengorbankan
suram yang terasa entah, mengusik ketenanganku
Satu wajah yang
mencoreng kiamat dini hari tadi
Mengumbar mimpi
yang tertunda menjelang tidurku
Dua pertiga
hidupku
Kusisakan mati,
kusisakan memori
Diruang artifisial
Kelam bertabur sandiwara
Utopia,
fatamorgana
Lantas mati
beriringan keranda
Bertanya,
menanya
Sesuatu yang
berwajah
Melilit hasrat
yang diam
Bungkam dan
tertawa
Aku ingat, detik
papasan tanpa tolehan
Hanya senyum
sombong melangkahi
Jejak-jejak
mayat
Yang lahir pasca
tragedi
Yang diam total
menimang dendam
Marah dan geram,
Aku berteriak
Lebih baik mati
membunuh
Daripada berketerusan
menampung sabar
Demi satu wajah
kasar
Selama ini
memelihara kebusukan
Satu wajah yang,
Tunggu saja
akhir ini semua
Kita berdaulat
tanpa melebur
Satu wajah!
Tunggulah waktunya
Dimana kertas
yang aku remas hari ini
Menjejali mulutmu
Satu wajah!
Matamu boleh
saja berbelok arah
Tapi instingku
kian jeli setiap harinya
Menentang dirimu
Menenteng strategi
Menantang psiko
Ataulah ini
mutlak menikam
Wajah kasar yang
tersangga lehermu!
Satu wajah,
brengsek!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar