Rabu, 26 Desember 2012

satu wajah


Deru gemercik dedaunan menyapa air hujan
Dia mengorbankan suram yang terasa entah, mengusik ketenanganku
Satu wajah yang mencoreng kiamat dini hari tadi
Mengumbar mimpi yang tertunda menjelang tidurku
Dua pertiga hidupku
Kusisakan mati, kusisakan memori
Diruang artifisial
Kelam bertabur sandiwara
Utopia, fatamorgana
Lantas mati beriringan keranda
Bertanya, menanya
Sesuatu yang berwajah
Melilit hasrat yang diam
Bungkam dan tertawa
Aku ingat, detik papasan tanpa tolehan
Hanya senyum sombong melangkahi
Jejak-jejak mayat
Yang lahir pasca tragedi
Yang diam total menimang dendam
Marah dan geram,
Aku berteriak
Lebih baik mati membunuh
Daripada berketerusan menampung sabar
Demi satu wajah kasar
Selama ini memelihara kebusukan
Satu wajah yang,
Tunggu saja akhir ini semua
Kita berdaulat tanpa melebur
Satu wajah!
Tunggulah waktunya
Dimana kertas yang aku remas hari ini
Menjejali mulutmu
Satu wajah!
Matamu boleh saja berbelok arah
Tapi instingku kian jeli setiap harinya
Menentang dirimu
Menenteng strategi
Menantang psiko
Ataulah ini mutlak menikam
Wajah kasar yang tersangga lehermu!
Satu wajah, brengsek!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar