Selasa, 18 Desember 2012

sahabat jakartaku!

Ini ceritaku tentang seorang sahabat. Sahabat karib yang akan hilang dari jeratan mata. Sahabat karib yang telah bersenandung dikehidupan realitas. Setelah bertahun-tahun menghembuskan nafasnya dengan kepalsuan. Ini ceritaku tentang sahabat dekat. Yang erat menggantungkan semangat pada setiap kepala yang ia kenal terbelit keresahan. Yang selalu mengumbar motivasi saat tersulit ditengah gurauan serius perkuliahan. Semuanya telah berlalu. Ia akan segera meninggalkan keterpurukan lebih dahulu sebelum aku terlambat menyadari bahwa betapa aku merindukannya. sahabatku.
Namun aku merelakannya. Semua manusia mengalaminya, perubahan yang secara konstan dan memilih untuk pulang dengan tawa. Mengerahkan sisa mimpi yang sebagiannya terlanjur dirampas. Ditengah perang, ditengah kerja. Siapapun yang menjadi mahasiswa pasti akan kembali menuju kehidupan yang lebih kejam melampaui derajat mitos neraka. Sehingga seberapapun kebersamaan dimaknai sebagai intensitas pribadi manusia. Pada saatnya nanti manusia akan berpencar. siklus hidup memang menggariskan demikian. Sehingga waktu yang telah terlewatkan ketika manusia pernah mengalami hidup bersama orang lain hanya meninggalkan kenangan.
Hari ini, menjadi hari terakhir ia mengundurkan hadirnya. ia tetap berkelit bahwa suatu saat kami akan bertemu kembali seperti sediakala. Layaknya dua bersaudara. Yang selalu tenggelam dalam kesusahan dan kedamaian. Kemudian membaginya dalam kajian obrolan. Tidak mungkin, pikirku. Itu tidak akan terjadi lagi. Meskipun terjadi, segala sesuatunya tidak akan sama seperti yang kita lihat hari ini. keadaanmu Sahabatku! Aku mengenalimu dalam gelas berisi kopi, mengumbar ribuan hasrat yang sampai hari ini aku tidak bisa mengumpulkan ceritamu satu persatu.
Kini setelah apapun yang kau lalui sahabatku! Seharusnya kau tidak perlu berterimakasih ketika aku membagi sebagian yang kumiliki menjadi milikmu juga. Kau tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang puitis ketika berhari-hari kami menunggumu dirumah sakit yang luar biasa menjijikkan itu. Tidak perlu. kami seharusnya bisa selalu ada membantumu.
Ada pertemuan ada kehilangan. Rotasi kehidupan yang demikian tidak bisa aku pungkiri. Bahkan walau menjerit  sekalipun tidak akan mengubah lini yang telah tertulis pada takdir. Sebuah affinitas kehidupan yang menarik kausalitas sekaligus konsekuensi dari penyebab. Pertemuan memberikan arti yang mendalam ketika kurun lima tahun harus berakhir beberapa hari ke depan. Aku tidak mengkhawatirkan kapan aku bisa melihatnya lagi, mendengarkan cerita darinya yang selalu tragis dengan kekejaman hidup. Tetapi pertmuan selanjutnya tidak akan sama seperti hari kemarin. Ketika ia terlilit kesibukannya dan bisa menjadi mustahil untuk ia tinggalkan. Itulah yang menjadi kekhawatiran.
Mungkin ini senda gurau terkhirku didepanmu sahabat. Semoga kau tidak melupakan kejinya kehidupan kampus. Semoga kau tidak lupa kawananmu disini yang masih mencari, yang masih mengais sampah ideologi yang semakin menggila. Semoga kau berkenan membagi kabar lagi meski sebatas suara ataupun pesan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar