Ini ceritaku tentang
seorang sahabat. Sahabat karib yang akan hilang dari jeratan mata. Sahabat
karib yang telah bersenandung dikehidupan realitas. Setelah bertahun-tahun
menghembuskan nafasnya dengan kepalsuan. Ini ceritaku tentang sahabat dekat.
Yang erat menggantungkan semangat pada setiap kepala yang ia kenal terbelit
keresahan. Yang selalu mengumbar motivasi saat tersulit ditengah gurauan serius
perkuliahan. Semuanya telah berlalu. Ia akan segera meninggalkan keterpurukan
lebih dahulu sebelum aku terlambat menyadari bahwa betapa aku merindukannya.
sahabatku.
Namun aku
merelakannya. Semua manusia mengalaminya, perubahan yang secara konstan dan
memilih untuk pulang dengan tawa. Mengerahkan sisa mimpi yang sebagiannya terlanjur
dirampas. Ditengah perang, ditengah kerja. Siapapun yang menjadi mahasiswa
pasti akan kembali menuju kehidupan yang lebih kejam melampaui derajat mitos
neraka. Sehingga seberapapun kebersamaan dimaknai sebagai intensitas pribadi
manusia. Pada saatnya nanti manusia akan berpencar. siklus hidup memang
menggariskan demikian. Sehingga waktu yang telah terlewatkan ketika manusia
pernah mengalami hidup bersama orang lain hanya meninggalkan kenangan.
Hari ini, menjadi hari
terakhir ia mengundurkan hadirnya. ia tetap berkelit bahwa suatu saat kami akan
bertemu kembali seperti sediakala. Layaknya dua bersaudara. Yang selalu
tenggelam dalam kesusahan dan kedamaian. Kemudian membaginya dalam kajian
obrolan. Tidak mungkin, pikirku. Itu tidak akan terjadi lagi. Meskipun terjadi,
segala sesuatunya tidak akan sama seperti yang kita lihat hari ini. keadaanmu
Sahabatku! Aku mengenalimu dalam gelas berisi kopi, mengumbar ribuan hasrat
yang sampai hari ini aku tidak bisa mengumpulkan ceritamu satu persatu.
Kini setelah apapun
yang kau lalui sahabatku! Seharusnya kau tidak perlu berterimakasih ketika aku
membagi sebagian yang kumiliki menjadi milikmu juga. Kau tidak perlu
mengeluarkan kata-kata yang puitis ketika berhari-hari kami menunggumu dirumah
sakit yang luar biasa menjijikkan itu. Tidak perlu. kami seharusnya bisa selalu
ada membantumu.
Ada pertemuan ada
kehilangan. Rotasi kehidupan yang demikian tidak bisa aku pungkiri. Bahkan
walau menjerit sekalipun tidak akan
mengubah lini yang telah tertulis pada takdir. Sebuah affinitas kehidupan yang
menarik kausalitas sekaligus konsekuensi dari penyebab. Pertemuan memberikan
arti yang mendalam ketika kurun lima tahun harus berakhir beberapa hari ke
depan. Aku tidak mengkhawatirkan kapan aku bisa melihatnya lagi, mendengarkan
cerita darinya yang selalu tragis dengan kekejaman hidup. Tetapi pertmuan
selanjutnya tidak akan sama seperti hari kemarin. Ketika ia terlilit
kesibukannya dan bisa menjadi mustahil untuk ia tinggalkan. Itulah yang menjadi
kekhawatiran.
Mungkin ini senda
gurau terkhirku didepanmu sahabat. Semoga kau tidak melupakan kejinya kehidupan
kampus. Semoga kau tidak lupa kawananmu disini yang masih mencari, yang masih
mengais sampah ideologi yang semakin menggila. Semoga kau berkenan membagi
kabar lagi meski sebatas suara ataupun pesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar