Hampir genap enam tahun
lamanya aku menyulam pilu di dalam area kampus. Menitikkan air dari sela
jemari. Ingin rasanya aku berhenti menjadi budak, ingin rasanya aku berhenti.
Otak yang kian dijejali ribuan teori. Tapi tiap kali pikiran itu datang, melintas
pula wajah-wajah yang jauh. Wajah-wajah yang tidak pernah enggan sedetikpun
berdo’a kepada tuhan. Wajah-wajah yang tidak pernah merasa terpaksa menitikkan
keringat hanya demi anaknya yang tak kunjung pulang. Demi Anak-anak nakal.
Anak-anak yang selama bertahun-tahun punah dari pandangannya. Sekalipun mereka
bertemu, anak itu selalu ingkar dan membantah.
Setiap sore, disebuah kursi
teras rumah, ibu selalu melirik ke arah barat. Menembus pagar, pandangan yang
sekaan-akan dengan sorotan itu akan mengembalikan anaknya yang hilang dalam
kegelapan dan kemurungan senja yang entah. Sehingga tidak berkurang airmata itu
menetes dari pipinya. Sering aku mengintip kejadian itu tanpa mau mencari tahu
apa yang sesungguhnya beiau pikirkan. Aku memahaminya kemudian, ibu memikirkan kakakku yang waktu itu berada di kejauhan. Saat itu aku belum begitu mengerti hakekat
perasaan seorang ibu, dan sebaliknya, aku tidak mengerti hakekat kemerdekaan
seorang anak dari pengawasan orangtuanya. Dan, akulah anak tersebut. Anak yang
tidak pernah berhenti mencerca diri sendiri. Sebagai anak durhaka yang
sepertinya malas. Sudahlah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar