Selasa, 18 Desember 2012

aku dan pendahuluku

Hampir genap enam tahun lamanya aku menyulam pilu di dalam area kampus. Menitikkan air dari sela jemari. Ingin rasanya aku berhenti menjadi budak, ingin rasanya aku berhenti. Otak yang kian dijejali ribuan teori. Tapi tiap kali pikiran itu datang, melintas pula wajah-wajah yang jauh. Wajah-wajah yang tidak pernah enggan sedetikpun berdo’a kepada tuhan. Wajah-wajah yang tidak pernah merasa terpaksa menitikkan keringat hanya demi anaknya yang tak kunjung pulang. Demi Anak-anak nakal. Anak-anak yang selama bertahun-tahun punah dari pandangannya. Sekalipun mereka bertemu, anak itu selalu ingkar dan membantah. 
Setiap sore, disebuah kursi teras rumah, ibu selalu melirik ke arah barat. Menembus pagar, pandangan yang sekaan-akan dengan sorotan itu akan mengembalikan anaknya yang hilang dalam kegelapan dan kemurungan senja yang entah. Sehingga tidak berkurang airmata itu menetes dari pipinya. Sering aku mengintip kejadian itu tanpa mau mencari tahu apa yang sesungguhnya beiau pikirkan. Aku memahaminya kemudian, ibu memikirkan kakakku yang waktu itu berada di kejauhan. Saat itu aku belum begitu mengerti hakekat perasaan seorang ibu, dan sebaliknya, aku tidak mengerti hakekat kemerdekaan seorang anak dari pengawasan orangtuanya. Dan, akulah anak tersebut. Anak yang tidak pernah berhenti mencerca diri sendiri. Sebagai anak durhaka yang sepertinya malas. Sudahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar