Jumat, 08 Maret 2013

aku yang terlambat pulang

mentari menjelma memayungi kelakuan bodohku. serupa kebencian yang kerap mengganggu mataku, hingga terjaga dalam buih kemarahan, setiap malam. serupa penyesalan yang juga mempersunting ingatan dengan sesal yang belum mencapai batas bosan. aku menempatkan sejarah singkatmu dalam bejana murahan yang dapat kau temui dalam pelukan siapapun, namun tidak mungkin dapat kau terima dari tangan yang sama, serupa tamparan masa depan yang kau rebahkan di tangan kosongmu, ketika aku mendapati hari yang berkuyup embun, kau mencoba membuka jemari yang sempat terbungkus mengepal. sambil bernyanyi jeritan kekuasaan, kau membahasakan ketidakmengertianku pada makna hidup. hidup yang mekar dalam penjara kebencian, bagaimana cara bermimpi dan berhitung sanggahan ditengah jembatan palsu, juga bagaimana memilah barisan nyawa yang mengitari senyuman. kau mengingatkanku mitos jiwa yang bersuka ria dengan kegelapan.
kau terlahir menjelang subuh, didunia yang tidak dapat kujanjikan akan menerimamu. di dunia yang akan menjamin dirimu dengan ribuan rayu, terkadang keju pendidikan itu akan manis untuk kau dengar dari kelembutan mereka. kaupun bernyanyi dengan bahasamu sendiri, jeritanmu adalah jawaban dari semua tantangan dunia. yang tidak mungkin dimengerti oleh nazar perang tanpa mata hati. kau berbisik dengan kemerdekaan, menembus simulakra pekat dengan belati fajar yang ayah ibumu titipkan. agar kau melihat dunia dengan tatapan bahagia. aku akan pulang keponakanku, aku merindukanmu segaris kata, namun lebih tinggi dari rindu yang aku ketahui sebanyak usiaku.

M. Fajar Mahardika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar